Kamis, 08 Februari 2018

Berkunjung Langsung ke Garage Sang Pencetus BratStyle

Brat Style salah satu garage di Jepang yang keberadaannya cukup dikenal bagi custom enthusiast di Indonesia. Garage milik Go Takamine ini identik dengan karyanya yang simple dan banyak menjadi insiprasi builder-builder di Tanah Air. Perjalanan tim Gastank Magazine berasal di Jepan Tahun ini, kami berkesempatan mengunjungi langsung bengkelnya yang berada di Tokyo.
Sedikit membahas tentang historinya, Brat Style menjadi salah satu genre yang paling banyak diadopsi oleh para penggila custom. Style ini punya tampilan ‘bandel’ sehingga cocok hampir untuk segala medan. Jauh sebelum genre ini banyak diadopsi, kata Brat Style ini awalnya adalah sesederhana merupakan nama dari custom shop milik Go Takamine di Jepang, yang sudah ada sejak 1997.

Pada saat itu, Go Takamine kerap membangun custom bike dengan style unik, rideable, fun, namun tetap seimbang dengan ciri khas tersendiri. Pada akhirnya, Brat Style terus berkembang dan secara tak langsung mendorong Go Takamine berada di puncaknya, sebagai salah satu world custom builder.
Salah satu puncak dari pencapaiannya, Takamine sempat mendapat kepercayaan oleh dua pabrikan utama di Jepang, Yamaha dan BMW untuk membangun motor yang baru diluncurkan namun dalam versi desain custom. Asyiknya motor-motor baru yang di garap Go Takamine ini Yamaha SR400 dan BMW R9T didesain sesuai dengan karakter Brat Style.

Saat kami  mampir ke workshop yang menjadi satu dengan gerai Brat Style, Go Takamin sedang sibuk mempersiapkan motor-motor untuk balap fun race Brat Style Flat Track Party yang berlangsung kawasan Saitama. “Ini bukan balap serius hanya fun race saja sambil nikmati bbq bersama teman-teman,” ujarnya.

Workshopnya sendiri terbilang besar dan menempati jalan yang cukup straregis di Chome, Akabanekita, Kita, Tokyo. Bagian lantai bawah selain sebagian besar lahannya dimanfaatkan untuk display produk apparel Brat Style dan motor-motor custom hasil karyanya.
Lantai bawah berbagi dengan areal bengkel service yang ada pada bagian sebelah kanan gedungnya. Sedangkan untuk lantai dua dimanfaatkan untuk meyimpan beragam part dari berbagai motor produksi Eropa dan Amerika lawas.

Well bisa kita bilang, Go Takamine merupakan founding father-nya aliran Brat Style. Selain di Jepang, Takamine juga memiliki cabang di Long Beach, California dengan nama Brat Style USA. Builder yang kini disponsori oleh salah satu produk jam Timex  sudah tinggal di Negeri Paman Sam bersama pasangannya Masumi sekitar hampir 3 tahun.

Source : Gastank Magazine

 http://gastankmagazine.com/wp-content/uploads/2018/02/bratstyle-japan-5.jpg

Rabu, 07 Februari 2018

Adidas X Bombtrack

 Adidas x Bombtrack collaboration bike

The opportunity to work on a collaboration project doesn’t come along very often, so when Adidas approached us about producing a limited number of fixed/track bikes we couldn’t believe it. 

After we saw the preview of the bags and accessories Adidas had in the works, we knew that we could do something really cool in carrying this look into the bike.

The Street Crew accessories offered not only some cool colours for the bike, but lots of details that we could play around with and incorporate into the design. 

The two tone muted greens were an excellent starting point, and we were keen to carry the neon stripe detailing into the bike and create a sporty and dynamic look.  We rounded off the design with some detailing on the rims, pedals and handlebars that helped cement the bike into this new range from Adidas.

“The vibrant neon detailing enhance the sporty and dynamic look.”

We’re extremely happy with how the bike came out, and are thrilled to have been involved in this collaboration.

These limited numbers of bikes were only produced for promoting the new Street Crew collection, and so can only be seen in a selected 32 Adidas Flagship Stores throughout Europe and Asia.

Source : Google.com

Image result for adidas x bombtrack

Kamis, 11 Januari 2018

BRAND ECOLOGY: Dari 'Awareness' Hingga 'Share of Wallet’:

Hingga akhir abad ke-20 sebenarnya kebanyakan biro iklan masih menjual Awareness kepada para klien mereka. Seluruh sumberdaya Full Service Agency yang terhimpun dalam tiga ekspertis utama yaitu Account, Creative, dan Media ini, atas permintaan klien, diarahkan untuk menciptakan Awareness setinggi-tingginya bagi para produk atau Brand klien terkait. (Lihat gambar Ekologi-1).

Tapi tahun 1993 bermunculan Media Buying Agency, biro iklan yang khusus melayani perencanaan dan pembelian media. Yang mereka tawarkan pun berbeda yaitu capaian atas target-target ROI dan atau KPI. Bukan hanya itu, tapi juga tarif dan rabat 'media space/time/bandwidth' yang lebih murah di bawah label Cost Effectiveness. Tarif dan atau rabat yang mereka tawarkan kepada para pengiklan begitu menggiurkan, membuat banyak klien Full Service Agency mengalihkan pembelian media mereka kepada Media Buying Agency. (Lihat gambar Ekologi-2).

Situasi tersebut membuat banyak Full Service Agency konvensional', baik yang lokal maupun multinasional porak poranda. Ini karena umumnya sekitar 80% pendapatan usaha mereka sebelumnya memang dari pembeiian media. Sebagian dari mereka kemudian mengambil arah lain, menjadi biro iklan spesies baru yang disebut Brand Agency. Mereka menawarkan klien mereka kepiawaian menciptakan dan membangun Brand. Dan yang mereka janjikan pun dikenal dengan jargon Brand Trust & Advocacy. Ini sebenarnya adalah pergeseran dari salah satu ekspertis biro iklan Full Service, yaitu Account Management. Saat itulah lalu dimunculkan istilah Strategic Planning. Bersamaan dengan itu pula, penggalian dan penerapan model IMC (Integrated Marketing Communications) pun mendapat dorongan lebih intensif. (Lihat gambar Ekologi-3).

Tahun berganti tahun, tekonologi dan automatisasi pun kian mengambil alih sebagian (malah banyak yang berpendapat bagian besar) dari pekerjaan Segmentation, Targeting, dan Positioning sesuatu Brand. Layanan yang ditawarkan biro iklan pun harus bergeser lagi. Ini karena muncul tuntuan lain dari para pengiklan yang tidak puas dengan memperoleh Brand Turst & Advocacy. Tuntutan baru para pengiklan adalah Improved Conversion Rate. Maksudnya, biro-biro iklan harus mampu memperbesar porsi orang yang benar-benar membeli, bukan yang sekadar berkunjung pada 'situs jualan' Brand terkait. (Lihat gambar Ekologi-4).

Zaman terus bergulir. Biro-biro iklan yang sudah tiga kali melakukan adaptasi agar jasa mereka tetap relevan dan dibutuhkan, harus terus menciptakan "janji baru" kepada para klien mereka. Tapi meski banyak biro iklan yang belum mapan dengan situasi itu, kini sudah muncul lagi tuntuan baru. Kali ini klien bukan lagi menginginkan tingginya Conversion Rate, tapi Bigger Share of Wallet. Maksudnya, mereka menuntut perolehan yang lebih besar dari "pangsa belanja" dari para pembelanja bagi produk-produk mereka. Pengiklan menuntut biro-biro iklan (termasuk Media Buying Agencies) mampu, secara literal, mendorong konsumen untuk membelanjakan bagian terbesar dari kuota produk dari isi dompet pembelanja untuk Brand mereka, bukan Brand-brand para pesaing. Ini berarti, sasaran komunikasi periklanan seolah-olah bukan lagi khalayak, konsumen, ataupun pelanggan, tapi dompet pembelanja. Ya, ini laiknya sebuah revolusi bagi ilmu komunikasi. (Lihat gambar Ekologi-5).

Begitulah dinamika 'ruaaaar biasa' yang terjadi pada industri periklanan. Pergeseran layanan (baca: janji) biro iklan atau tuntutan para Pengiklan kepada mereka; Awareness - ROI/KPI - Trust & Advocacy - Conversion Rate - Share of Wallet, terjadi hanya dalam waktu sekitar 25 tahun saja. Jadi, jika Anda praktisi ataupun akademisi periklanan, mari terus bersiaga penuh, menyimak "revolusi" apa lagi yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang.||



Source :
BRAND ECOLOGY:
Dari 'Awareness' Hingga 'Share of Wallet’:
Oleh Baty Subakti

Delapan Perubahan Besar Branding Yang Wajib Dipahami Advertiser

Era Advertising yang interuptif berangsur berakhir, salah satunya karena posisi tawar audience dalam transaksi informasi semakin tinggi. Demokratisasi informasi menyebabkan audience memiliki hak lebih untuk menyaring atau menolak informasi, sekaligus menuntut bahwa informasi yang datang kepada mereka adalah informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks audience. Ada yang menyebut era ini secara provokatif sebagai post advertising era. Tapi Janoe Arijanto, CEO Dentsu Strat, menyebutnya sebagai peristiwa transformasi bisnis biasa atau lebih tepatnya, proses redefinisi advertising. Bagaimana advertiser harus memahami fenomena perubahan besar dalam proses branding di era disrupsi ini? Berikut wawancara Tim MIX lengkap dengan Janoe Arijanto. 
Ini adalah lompatan besar dari branding tradisional ke branding di era baru. Tolong tunjukkan perubahan lansekap branding di era baru ini?
Hampir seluruh perubahan besar yang terjadi di proses branding dipengaruhi oleh perubahan teknologi informasi, yang menyebabkan publik bisa berpartisipasi lebih dalam proses branding.
Proses branding diposisikan sama secara sosial dengan dengan proses pengiriman informasi non komersial. Wajar jika proses penyampaian pesan komersial dituntut untuk seamless, genuine dan menyatu kuat dalam konteks sosial ketika pesan itu diterima oleh audience.
Branding adalah sebuah proses, ketika branding diterapkan di landsekap konsumen yang sedang berubah, maka proses itu harus menyesuaikan diri, meninggalkan cara-cara lama dan menerapkan cara baru untuk merespon kenyataan baru. Beberapa point perubahan penting dalam proses branding tradisional ke branding kontemporer adalah sebagai berikut. 
Pertama, berubahnya pengertian konsumen dari khalayak pasif ke khalayak aktif. Konsumen memiliki kemungkinan merespon dinamika brand secara langsung bahkan mempengaruhi bagaimana brand itu dikembangkan. Proses branding bahkan tidak mencari dan menggali insight, tapi mendapatkan kiriman dan limpahan insight yang harus direspon secara langsung dan berbeda-beda. Salah satu kunci utama dari kenyataan ini adalah bahwa brand tidak hanya bertugas memperluas konsumen, tapi mencari konsumen sebagai partner aktif yang akan menjadi pendukung brand secara organik. Wajar jika term audience ditransformasikan lebih kuat oleh beberapa brand menjadi community.
Kedua, polarisasi sosial dan crowd culture memaksa pudarnya titik-titik pusat produksi informasi. Kekuasaan informasi bukan hanya dipegang oleh brand-brand besar, rezim politik pemilik media atau para perancang agenda sosial, tapi oleh publik yang terus menerus memroduksi pesan. Di lansekap seperti ini, brand tidak bisa memaksakan diri untuk menjadi pusat terus-menerus. Brand musti melakukan kolaborasi dengan publik, merespon arus informasinya dan mendesain interaksinya berdasarkan model yang telah berjalan. 
Ketiga, perancangan pesan menjadi perancangan conversation. Model komunikasi ini berlangsung lebih karena kondisi bahwa sudah tidak dimungkinkan lagi mengirim pesan satu arah dan mengontrol arusnya secara teratur. Brand tidak bisa lagi mendesain flow yang kaku ketika conversation telah dikirim, karena produksi pesan dan sharing hampir sepenuhnya dikendalikan oleh publik. 
Keempat, brand harus mengubah model kampanye dari sekadar mengirim pesan dan berbicara ke arah ajakan untuk bergerak, berpartisipasi merasakan pengalaman langsung. Di sinilah fungsi user experience design, tidak sekadar diartikan sebagai antar muka sebuah platform digital, tapi melebar kepada pengamalan langsung yang juga didesain dalam interaksi off line. 
Kelima, model komunikasi bertransformasi ke arah yang genuine, seamless, non-interruptive dan menonjolkan otentitas. Cara penulisan dan visualisasi ini dipengaruhi secara kuat oleh crowd culture, yang mendisain cara bertutur yang casual, langsung dan apa adanya. Brand mengadopsi phenomena itu dengan istilah content marketing, native ad atau context based messaging, segala proses komunikasi yang tidak memaksa konsumen untuk memperhatikan sebuah pesan iklan.
Keenam, perancangan touch point, perancangan media berubah menjadi perancangan engagement dan interactivity. Pola media planning tradisional cenderung berorientasi memasang titik-titik media komunikasi satu arah, sedangkan pola baru menuntut perancangan desain interaksi, siklus sharing dan perancangan conversation secara terus menerus. 
Ketujuh, orientasi komunikasi bukan sekadar berujung pada transaksi, tapi lebih pada memancing relationship yang kuat. Jadi, model ini memaksa brand-brand untuk tidak sekadar berorientasi pada pencapaian target komersial, tapi juga seberapa jauh sebuah brand bisa menjaga relationship-nya dalam berbagai bentuk interaksi dalam waktu yang berkesinambungan.
Kedelapan, akurasi semakin menjadi faktor penting dalam perancangan komunikasi. Small Data dan Big Data, memiliki perhatian yang sama pada kepentingan mendapatkan data yang akurat. Persoalan akurasi adalah persoalan mendapatkan alamat yang jelas, untuk mengirim pesan yang khusus, bukan hanya pada persoalan demografis tapi juga pada konteks konsumen paling kecil sekalipun (micro moment). Di sinilah, big data dan automation harus bekerja sama dengan konten kreatif secara intens.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah media consumption di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, perubahan konsumsi media ini telah mempengaruhi lansekap bisnis media. Bagaimana pendapat Anda?
Perubahan bukan hanya terjadi bagaimana publik mengonsumsi pesan dari berbagai media, tapi juga bagaimana publik memroduksi pesan dan menciptakan berbagai macam media. Di sinilah titik perubahan yang signifikan. Yang terjadi sekarang ini, beberapa media tetap bertahan, bahkan tetap dominan tapi berubah fungsinya dalam perancangan komunikasi, lebih karena publik menuntut pelibatan, butuh pola interaksi untuk memproduksi pesan-pesan.
Ada kecenderungan kuat, branding tidak berdiri sendiri, tetapi melebur bersama konten, budaya, dan sebagainya, bagaimana kita memahami situasi dan memaksimalkan peluang ini?
Era Advertising yang interuptif berangsur berakhir, salah satunya justru karena posisi tawar audience dalam transaksi informasi semakin tinggi. Demokratisasi informasi menyebabkan audience memiliki hak lebih untuk menyaring atau menolak informasi, sekaligus menuntut bahwa informasi yang datang kepada mereka adalah informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks audience.
Besarnya arus informasi komersial dalam bentuk iklan, bersaing dengan informasi non komersial lain, bukan hanya secara frekuensi tapi juga dalam persoalan kualitas. Di sinilah point penting perubahan, ketika proses branding tidak bisa lagi memaksakan diri untuk “merampok” perhatian publik.
Syarat bahwa iklan harus relevan, sesuai dengan konteks publik, mengharuskan branding melebur dengan seluruh peristiwa yang sedang dijalani oleh publik dalam kehidupan sehari hari. Masuk ke dalam tema-tema sosial, ada diantara agenda-agenda budaya, dan lifestyle, baik dalam bentuk editorial content yang sederhana, maupun dalam pertemuan-pertemuan langsung, antara brand itu sendiri dengan audience.
Bahkan di tahap itu proses Branding bukanlah melulu persoalan desain komunikasi, tapi juga persoalan bagaimana produk itu dirancang, dilahirkan, didistribusikan, dinikmati, dikembangkan dan diceritakan. Produk yang baik, akan bercerita sendiri secara organik, akan didistribusikan oleh khalayak dalam conversation, cara publik menikmati pun akan menjadi bahan sharing. Di saat itulah proses branding menemui titik idealnya, bukan hanya dirancang komunikasinya, tapi justru mengkomunikasikan dirinya sendiri melalui berbagai cerita tentang produk itu sendiri. 
Bagaimana memproduksi content yang kreatif dan inovatif? Benarkah merek sekarang sulit meraih popularitas?
Content Marketing memiliki bentuk yang beragam, jauh sebelum menyentuh persoalan kreativitas, perancangan konten harus memenuhi syarat dan benar di persoalan pesan, design campaign atau content distribution. 
Seringkali, para perancang content berkonsentrasi mencari keunikan dan jalan pintas untuk mendapatkan perhatian, namun gagal di persoalan membangun pesan yang tepat. Jika ini terjadi, sebuah program bisa digemari, tapi bisa gagal memenuhi target brand campaign bahkan gagal diidentikan dengan program branding sebuah brand.
Bagaimana pendapat Anda dengan penjelasan kebangkitan crowd culture? Apa kaitannya dengan penjelasan bahwa pada post advertising era, iklan tidak bisa lagi dibuat sekadar untuk placement di media. Kreativitasnya harus kovergen, bisa dieksekusi di berbagai kanal?
Pertama persoalan crowd culture, phenomena ini terjadi karena publik telah menjadi produsen informasi dalam skala massif. Mereka bukan hanya memroduksi informasi, tapi juga menjadi pemilik media dan memiliki massa dalam segmen-segmen yang beragam.
Tidak ada lagi rezim informasi yang menguasai informasi, yang mengendalikan informasi dan mengarahkan sebuah trend adalah crowd. Brand, bahkan harus merespon dan mengadopsi arus crowd culture ini. Landscape ini, secara cepat mengubah disiplin branding menjadi disiplin yang kompleks dan bergerak secara intens melibatkan massa.
Di saat itu, Advertising melakukan redefinisi, melakukan banyak perubahan bisnis model, berkonsolidasi dengan disiplin-disiplin lain, menggunakan teknologi secara intens di waktu yang sama meletakkan manusia dan konteks sosial secara kuat.
Ada yang menamakan secara provokatif sebagai Post Advertising Era, saya secara moderat menafsirkan sebagai peristiwa transformasi bisnis yang menarik untuk diikuti. Justru karena Advertising menemukan interaksinya yang intens dengan disiplin-disiplin lain. Salah satu kenyataan yang harus dihadapi advertising adalah kenyataan tentang Crowd Culture.
Dari gambaran yang ada, kampanye-kampanye pemasaran yang humanistic akan efektif untuk mencapai tujuan brand, tidak hanya untuk awareness, bahkan untuk tujuan penjualan. Bagaimana Anda menanggapi hal itu?
Human centric approach akan selalu menjadi acuan utama para pengelola brand. Persoalannya adalah, Human Centric menyaratkan proses yang tidak mudah. Alhasil, yang terjadi adalah Human Centric sering menjadi jargon, namun banyak yang gagal mempraktekkan, lebih karena ketidaksabaran mengikuti proses, menganggap pesan yang dibangun tidak straight forward, keengganan berinvestasi di data-data anthropologis, melihat conversation management sebagai asesoris belaka atau menilai program-program engagement hanya sebagai event sesaat.
Thesis utama Human Centric Approach adalah meletakkan manusia dan kemanusiaan sebagai core value dalam pengembangan brand. Brand, akan ditempatkan sebagai elemen sosial, berinteraksi dalam logika sosial, dibicarakan dalam dialog sosial, disebarkan sebagai konten sosial dan dengan sendirinya akan masuk dalam relevansi sosial. Brand berkembang secara organik dan membangun dirinya sendiri dalam logika non-transaksional.
Ketika dipertemukan dengan berbagai macam consumer insights, setiap brand selalu memiliki irisan-irisan kemanusiaan, irisan-irisan itu seringkali berupa insight paling dalam yang bisa dikembangkan secara positif oleh brand, bukan hanya untuk tujuan-tujuan marketing sesaat tapi juga untuk memelihara umur brand dalam jangka waktu yang lama. 
Berikan tips atau strategi menciptakan kreativitas Branding Di era media sosial?
Sebuah data yang dirilis pada tengah tahun 2017 tentang bagaimana brand seharusnya tampil di social media menunjukkan temuan yang menarik. Publik menganggap sebuah brand adalah sosok manusia yang harus berinteraksi dalam empat sifat utama: Honest, Friendly, Helpful dan Funny!.
Sebaga sebuah clues, data sederhana itu menunjukkan media sosial adalah ruang besar pergaulan yang menempatkan brand untuk berhubungan secara intens bukan dalam rangka transaksi, tapi dalam kerangka relationship. Dan itu prinsip yang paling utama dalam kampanye di tengah-tengah maraknya crowd culture. * 

Source :
Mix Marketing Mags

Rabu, 20 Desember 2017

Pakai Sistem Skor, Cara Cina Mengontrol Warganya

Dalam hitungan mundur, dua tahun lagi, Sistem Kredit Sosial Cina (SKS) akan diterapkan.
 
tirto.id - Episode “Nosedive” dari serial Black Mirror tayang Oktober tahun lalu. Ia merupakan episode pertama dari musim ketiga, sebuah serial asal Inggris karangan Charlie Broker. Selain karena ditarik Netflix—penyedia layanan menonton streaming paling populer—ke dalam jaringan mereka, Black Mirror juga meledak karena pelintiran plotnya yang terkenal tidak biasa. Contohnya kisah Lacie (Bryce Dallas Howard) dalam “Nosedive”.

Tokoh utama adalah perempuan yang terobsesi untuk mendapatkan rating—semacam likes di Instagram. Bedanya, likes di Instagram saat ini hanya masih berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk jadi pengiklan alias endorser. Sementara rating dalam “Nosedive” akan berdampak pada skor individu Lacie, yang punya dampak besar terhadap seluruh aspek kehidupannya. Mulai dari: kemampuannya membeli apartemen, menyewa rental mobil, tempat duduk di pesawat, bahkan bilik di penjara.

Semakin tinggi skor Lacie, semakin mudah hidupnya. Maka semakin rendah skor yang ia peroleh, semakin menyedihkan pula fasilitas yang bisa ia pakai.

Saat itu, “Nosedive” sempat ramai dapat tanggapan baik. Kemiripan pola pikir hedonis Lacie dengan kebanyakan generasi saat ini yang larut dalam media sosial jadi proximity-nya. Meski di kehidupan nyata tak ada aplikasi yang benar-benar serupa seperti milik Lacie, faktanya sebagian orang merasa kritik serial itu dekat dengan situasi saat itu.

Namun, tak banyak orang tahu, Cina justru telah mengesahkan aturan serupa seperti terjadi di tempat tinggal Lacie dua tahun sebelum serial “Nosedive” hadir.

Pada 14 Juni 2014, Cina menerbitkan “Ikhtisar Rencana Pembangunan Sistem Kredit Sosial”. Isinya kurang lebih adalah tentang bagaimana negara memanfaatkan big data para warganya untuk membuat takaran kelayakan penduduknya, bukan cuma dalam mendapat kredit, tapi juga seluruh aspek hidup mereka.

Persis seperti Lacie, warga Cina nantinya juga akan berlomba menunjukkan “berperilaku baik” sesuai dengan kriteria yang ditentukan negara. Sebab, segala hal dalam kehidupan mereka bergantung dari sana. Dalam makalahnya Sistem Kredit Sosial Cina, Mirjam Meissner dari Mercator Institute for China Studies menyebut di antaranya: kelayakan menerima kredit, kelayakan menerima subsidi, akses pada pengadaan publik, kelayakan menerima investasi.

Sistem pengawasan semacam ini, dianggap oleh Rogier Creemers, seorang ahli dari Oxford University memiliki kemiripan dengan yang dilakukan para pemerintah di Jerman Timur. Hanya saja, pemerintah Cina lebih agresif. "Tujuan Jerman terbatas [dalam mengawasi warga] guna menghindari pemberontakan melawan rezim tersebut," kata Creemers dalam wawancara dengan surat kabar Belanda De Volkskrant. 
 
Aturan itu memang baru akan benar-benar diterapkan 2020 nanti. Namun, persiapannya sudah berjalan. Sejak 2015, sudah ada delapan perusahaan swasta yang dipilih bank sentral Cina untuk terlibat, termasuk Tencent dan Alibaba.

Data Forbes  bahkan menyebut otoritas Cina sudah mendaftarkan 44 perusahaan swasta lain untuk sistem pembayaran online bukan bank, alias Wanglian. Mereka bahkan sudah diminta melakukan clearinghouse per Juni 2018 mendatang.

Fungsinya, mereka akan mempermudah regulator memantau transaksi di tingkat mikro. Wanglian juga akan menyediakan data pelanggan mereka untuk membantu bank merekam kredit konsumennya. Dalam sistem ini juga telah terdaftar 300 bank komersial yang telah tergabung.

Tak cuma perilaku finansial warga dan perusahaan di Cina yang akan direkam pemerintah. Dalam catatan Meissner: perilaku online, rekaman kriminal, riwayat pekerjaan, laporan pengeluaran dan pajak tahunan, adalah ihwal lain yang telah direkam pemerintah Cina sejak aturan tersebut dikeluarkan.

Sampai 2020 nanti, pemerintah Cina juga akan menambahkan regulasi-regulasi tambahan untuk melancarkan program ini. Di antaranya tentang energi terbarukan, e-commerce dan aktivitas online, serta kalkulasi harga. Sementara menurut linikala kerjanya, setelah 2020, pemerintah Cina akan segera menginklusi seluruh sektor dan industri. Mereka juga akan membangun sistem monitoring real-time: untuk mengawasi kegiatan online, emisi, dan pelacakan kendaraan.

Baca juga: Benarkah Kecerdasan Buatan adalah Malapetaka?

Menurut Susan Hsu, Asisten Profesor Ekonomi di Universitas Negeri New York, Cina memang tengah membangun sistem kredit yang menembus sistem perbankan. Dengan sistem ini, orang-orang yang selama ini tak tersentuh bank juga akan terjangkau dan lebih mudah diatur serta dipantau.

Terlepas dari kontroversi sistem ini yang menuai kritik dari luar Cina, pemerintah tampaknya berhasil menggiring warganya tanpa perlawanan. Salah satu hal baik menurut Hsu adalah, “Suka atau tidak, debitur terpercaya akan terpisah dari debitur yang tak dapat dipercaya dengan cara yang jauh lebih jelas,” tulisnya di Forbes.

Tapi bukan tak punya risiko sama sekali. Meissner juga mencatat dampak akibat data pribadi yang direkam negara. Kurang lebih, hidup warga Cina nanti akan mirip hidup Lacie. Kesempatan berkarier, hingga kelayakan dapat diskon hotel, tiket transportasi, hingga rental mobil juga akan ditentukan skor yang diperoleh.

Kini, hal itu belum terlalu terasa. Setidaknya tidak bagi semua orang, sebab SKS masih regulasi yang bersifat dianjurkan. Pada 2020 nanti, semua orang di Cina akan wajib masuk dalam sistem. Dunia yang dialami Lacie akan benar-benar terjadi secara nyata, dan Cina kini sedang memulai membuat sebuah "cermin hitam" yang mengerikan.


Source : Tirto.id
Reporter: Aulia Adam
10 Desember, 2017 

Selasa, 12 Desember 2017

5 Corporate Event Ideas

https://youtu.be/yOSGvFVSHTA

Source : Event Manager Blog Linkedin

How Can Small Businesses Get Their Idea To Spread Without Big Marketing ?

Dear Small business owner, what you are wanting to spread is an idea. Marketing is not the answer you seek.

In the world of networks today your growth is all about how deeply can you make people believe in your idea and invite/ inspire them to spread it for you. This is especially true for small businesses.
This post captures the 2 (two) most important learnings while working with small business owners to spread their ideas:

#1: Build a strong narrative. (Narrative is not marketing)

The narrative about your small business is not marketing. The narrative is your belief in the value that you are creating and the perception of that value in your customer’s belief.
Remember, narratives take time and effort to build. They are possibly the most important investment you make in your brand. Once your customer believes in the value the same way that you do, you will not have to worry about churn/ business loss due to smaller/ trivial factors.
The most important factor about a narrative is consistency of message and design.

#2: How many times by design do you speak with your customers? (Increase frequency)

The most important metric going forward will be ‘number of conversations’ that lead to ‘sales’. Everything around you is a conversation. Whatsapp, Linkedin, facebook, YouTube, twitter are all conversations.
The fundamental of being human is being able to converse. Small businesses fall into the trap of big budget paid marketing. That’s marketing, not a conversation. Conversations have the advantage of getting the human sub-conscious to come forth a lot more often.

Double your sales in 2018. Go big.

 Source : Paritosh Sarma Linkedin

Manager vs Leader The difference between them and how to be both

Leadership and management must go hand in hand.
However, they are not the same thing. But they are necessarily linked, and complementary.
Any effort to separate the two is likely to cause more problems than it solves.
Still, a lot of time has been spent delineating the differences.

The manager’s job is to plan, organize and coordinate.

The leader’s job is to inspire and motivate. In his 1989 book “On Becoming a Leader,” Warren Bennis composed a list of the differences:

– The manager administers; the leader innovates.
– The manager is a copy; the leader is an original.
– The manager maintains; the leader develops.
– The manager focuses on systems and structure; the leader focuses on people.
– The manager relies on control; the leader inspires trust.
– The manager has a short-range view; the leader has a long-range perspective.
– The manager asks how and when; the leader asks what and why.
– The manager has his or her eye always on the bottom line; the leader’s eye is on the horizon.
– The manager imitates; the leader originates.
– The manager accepts the status quo; the leader challenges it.
– The manager is the classic good soldier; the leader is his or her own person.
– The manager does things right; the leader does the right thing.

Perhaps there was a time when the calling of the manager and that of the leader could be separated. A foreman in an industrial-era factory probably didn’t have to give much thought to what he was producing or to the people who were producing it. His or her job was to follow orders, organize the work, assign the right people to the necessary tasks, coordinate the results, and ensure the job got done as ordered. The focus was on efficiency.
But in the new economy, where value comes increasingly from the knowledge of people, and where workers are no longer undifferentiated cogs in an industrial machine, management and leadership are not easily separated. People look to their managers, not just to assign them a task, but to define for them a purpose. And managers must organize workers, not just to maximize efficiency, but to nurture skills, develop talent and inspire results.
The late management guru Peter Drucker was one of the first to recognize this truth, as he was to recognize so many other management truths. He identified the emergence of the “knowledge worker,” and the profound differences that would cause in the way business was organized.
With the rise of the knowledge worker, “one does not ‘manage’ people,” Mr. Drucker wrote. “The task is to lead people. And the goal is to make productive the specific strengths and knowledge of every individual.”

Source : Ed Smith ( Linkedin ).

 

Kamis, 30 November 2017

Apa Itu Digital Marketing ?

    Pengertian Digital marketing adalah suatu usaha untuk melakukan pemasaran sebuah brand atau produk melalui dunia digital atau internet. 

    Tujuannya ialah untuk menjangkau konsumen maupun calon konsumen secara cepat dan tepat waktu. 

    Secara mudahnya ialah, Digital marketing ialah suatu cara untuk mempromosikan produk / brand tertentu melalui media internet. 

    Bisa melalui iklan di internet, facebook, youtube, ataupun media sosial lainnya.

Quote of the day

"In today’s age, everything is a commodity.  

 Nobody cares about your product, your brand, or the color of your logo.  

Experiences are the only way to differentiate yourself.  

 Experiences are the only thing we are willing to pay a premium for.  

 So customer experience has to be the #1 priority for every business, every marketer, every brand.   
It is a top challenge for businesses today."

Senin, 11 September 2017

Beda antara Push & Pull Marketing ( Edhy Aruman, Mix Marketing )

Push Vs Pull Marketing  

Banyak produk yang secara mengejutkan mampu membukukan penjualan yang mencengangkan di awal peluncurannya. Mungkin dia saat itu bukan pemimpin pasar atau pioneer di kategorinya, namun gebrakan pasarnya membuat para kompetitornya kewalahan. Merek tersebut bahkan menjungkalkan pemimpin pasar sebelumnya. 
 Untuk mempromosikan dan menjual merek atau produknya, pemasar dan pengecer menggunakan dua jurus, yakni push dan pull strategi. Produsen, grosir dan distributor "mendorong" produk ke pengecer dan pengecer mendorong produk kepada pelanggan. Pengecer juga menarik pelanggan dengan berbagai metode. Pengecer sering menggunakan kombinasi pendekatan push-pull untuk menarik pelanggan potensial. Perbedaan utama antara push dan pull marketing terletak pada bagaimana konsumen didekati. 
Dalam push marketing, idenya adalah untuk mempromosikan produk dengan membuat produk tersebut sampai ke konsumen. Bila itu dilakukan maka tampilan penjualan dan iming-iming buat pembeli di toko perlu diperhatikan. Sementara itu, dalam pull marketing, idenya adalah untuk membangun kesetiaan dan menarik konsumen kepada produk. Contohnya adalah Porsche dan Lamborghini. Dua merek tersebut perlu lagi beriklan karena konsumen akan mendatangi kepada mereka. 
Push Marketing Push marketing adalah strategi promosi yang digunakan oleh pemasar agar merek atau produk yang dikelolanya sampai ke pelanggan. Taktiknya secara umum misalnya menjual barang dagangan secara langsung kepada pelanggan melalui showroom perusahaan dan bernegosiasi dengan pengecer untuk menjual produk mereka, atau mengatur point-of-sale. Untuk kepentingan tersebut, untuk meningkatkan visibilitas, seringkali pengecer menerima insentif penjualan khusus dalam bentuk pertukaran baik berupa uang maupun produk. Salah satu contoh push marketing dapat dilihat di department store yang menjual parfum atau pendekatan yang dilakukan tenaga penjual obat-obatan kepada dokter. Produsen parfum sering menawarkan insentif penjualan ke department store untuk mendorong produk-produknya ke pelanggan. Taktik ini bisa sangat bermanfaat bagi merek-merek baru yang belum mapan atau lini merek baru tertentu yang membutuhkan promosi tambahan. Secara keseluruhan, yang ditawarkan kepada banyak konsumen di toko adalah aroma parfum sehingga konsumen mendapatkan pengalaman pertama dan baru dengan produk. Asumsinya pengalaman tersebut diciptakan karena selama ini belum mengetahuinya. 
 Pull Marketing Pull marketing mengambil pendekatan yang berlawanan. Tujuan pull marketing adalah membuat pelanggan mendatangi merek. Taktik penjualan umum yang biasa digunakan meliputi promosi melalui media massa, word-of-mouth terarah, dan penjualan melalui iklan. Dari perspektif bisnis, pull marketing merupakan upaya menciptakan loyalitas merek dan membuat pelanggan datang kembali, sedangkan push marketing lebih ditujukan untuk penjualan jangka pendek. Contoh pull marketing sering Anda jumpai. Merek atau produk dipromosikan melalui kampanye pemasaran dengan iklan. 
Tarik pemasaran ini membutuhkan biaya yang besar untuk periklanan. Salah satu contoh adalah pemasaran mainan anak-anak. Pada tahap pertama, perusahaan mengiklankan produk tersebut. Selanjutnya, anak-anak dan orang tua melihat iklan dan ingin membeli mainan. Begitu permintaan meningkat, pengecer mulai berusaha merebut pangsa pasar produk di toko . Sementara itu, perusahaan telah berhasil menarik pelanggan mereka. Pengalaman merek batu baterai lokal, ABC Alkaline membuktikan bahwa merek lokal follower sekalipun mampu menjadi pemimpin pasar. Ketika baterai ini diluncurkan, sejatinya di pasar sudah ada baterai yang sama-sama alkaline, yakni Duracell dan Energizer. Namun, kepiwaiannya dalam dalam menemukan celah pasar baru dan membaca tren pasar, ABC Alkaline berhasil menuai penjualan tinggi dan menjungkalkan pendahulunya. Ceritanya, ketika diluncurkan pada 1980-an, pengelola merek ABC Alkaline sudah memperkirakan bahwa pasar baterai jenis alkaline akan menjadi produk yang demand-nya meningkat pesat. Ini karena di negara-negara maju seperti Amerika, Eropa dan Jepang, market baterai alkaline sudah mencapai 80%. Dengan kata lain,saat itu, baterai jenis biasa sudah hampir tidak digunakan lagi. Sedangkan di Indonesia, sampai saat itu pasar baterai jenis alkaline baru mencapai sekitar 4% dari konsumsi semua jenis baterai. Itu sebabnya, pengelola ABC Alkaline yakin bahwa seiring dengan perkembangan teknologi, masyarakat Indonesia akan berpindah ke baterai jenis alkaline. Maklum, baterai alkaline memiliki kekuatan empat sampai lima kali lebih besar dibandingkan baterai biasa. Memang perusahaan yang melihat celah pasar ini di Indonesia memang tidak hanya ABC. Ada Duracell dan Energizer. Namun kedua merek yang belakangan disebut ini adalah pemain global yang produknya masih diproduksi di luar negeri. Kedua, komunikasi yang dilakukan Duracell maupun Energizer hampir identik. Dua-duanya mengklaim sebagai baterai tahan lama. Bahkan keduanya juga menggunakan kelinci sebagai maskot pemasaran mereka. Ketika pertama kali diluncurkan, ABC Alkaline pun sebetulnya masih diimpor dari negara lain. Jadi waktu itu, ABC Alkaline hanya menjual merek saja. Namun melihat pasarnya yang terus tumbuh, pada tahun 1990-an ABC kemudian memutuskan unuk memproduksi sendiri produk baterai alkaline itu. ABC Alkaline masuk dengan harga yang lebih murah. Sebab dalam situasi konsumen menagnggap sama kualitas beberapa produk, faktor harga menjadi penentu. Seperti yang diramalkan sebelumnya, pertumbuhan pasar baterai alkaline setiap tahunnya ternyata memang sangat tinggi, yaitu rata-rata mencapai 30% sampai 40%. Dengan edukasi pasar, pertumbuhannya terus membesar. Untuk ABC Alkaline sendiri, pertumbuhan penjualannya tahun itu melebih target—semula target dipatok pada level 25%. Faktanya, target itu sudah tercapai pada pertengahan tahun itu. Meskipun bukan pioneer di kategori produk ini, ABC berhasil menjadi market leader. Data AC Nielsen saat itu menunjukkan bahwa ABC Alkaline menguasai 60,1% pangsa pasar baterai alkaline. Sisanya diambil merek lain seperti Duracell dan Energizer. Sukses ABC Alkaline menjadi pemimpin pasan ini adalah berkat jaringan distribusi yang luas dan kekuatan strategi komunikasi. Distribusi ABC Alkaline mencakup skala nasional, meskipun hanya sampai tingkat kotamadya. Sebarannya hanya sampai daerah tingkat dua karena ABC Alkaline saat itu ditujukan untuk segmen premium. Jadi tentunya tidak cocok kalau didistribusikan sampai ke kampung-kampung. Sebagai satu-satunya produk alkaline produksi dalam negeri, sebetulnya ABC bisa terus bersaing dari sisi harga. Namun, ABC Alkaline tidak terlalu lama memanfaatkan pricing untuk bersaing dengan kompetitor. Pengelola merek ABC Alkaline yakin bahwa barang berkualitas tidak boleh dijual murah. Karena itu ABC Alkaline tidak mau berlama-lama menjual dengan harga lebih rendah dari produk competitor. Pada akhirnya, harga jual ABC Alkaline tidak berbeda jauh dengan Energizer dan Duracell. 
Kisah keberhaslan es krim Magnum lain lagi. Sampai 2010, nama es krim Magnum belum terdengar. Namun, setahun kemudian, Magnum berhasil mendorong pertumbuhan bisnis es krim PT Unilever Indonesia, bahkan sukses meningkatkan growth pasar es krim Indonesia secara keseluruhan. Setahun setelah relaunching Magnum, pasar es krim Indonesia tumbuh hingga 40% (2011). Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhannya tidak pernah sebesar itu. Dan pada semester I 2014 lalu, Magnum berhasil mendorong pertumbuhan bisnis es krim Unilever Indonesia hingga 15%-20%. Inovasi produk dan komunikasi pemasaran merupakan kunci keberhasilan Magnum. Pada awalnya, Magnum memulai perjalanan barunya dengan mengaitkan brand ini dengan imaji kualitas cokelat Belgia. Unilever juga menciptakan kampanye dengan muatan brand excitement yang tinggi di level konsumen, yakni kampanye City Challenge” untuk peluncuran produk Magnum Infinity dan kampanye Elevating the Beauty of Indonesia”untuk peluncuran produk “Magnum Pink and Black.” Clutter di media konvensional menuntut para pemasar untuk bertindak kreatif dalam mencari channel komunikasi maupun distribusi . Pengelola merek juga dituntut inovatif dalam menciptakan channel baru. Berjejer channel anyar seperti blog, interaktif bilboard, rest area, komunitas, games viral, dan yang lainnya, kini banyak dimanfaatkan oleh beberapa brand di tanah air, termasuk Magnum. 
Beberapa tahun lalu, Pantene dikabarkan berhasil menjadi market leader pasar shampo di Indonesia. Keberhasilan P&G mengalahkan dominasi brand shampo dari Unilever ini antara lain lantaran ketepatannya memilih kontak poin untuk komunikasi Pantene. P&G memilih membuat activation untuk para professional rambut ketimbang untuk end-user. P&G juga memutuskan menggunakan PR sebagai vehicle untuk komunikasi. Public Relations (PR) Beauty Networking, Pantene Cari Media, PR Media Maximization adalah program-program komunikasi pemasaran Pantene yang dipercaya menimbulkan competitive advantage yang tidak bisa ditiru dalam sekejap. Pantene Cari Bintang dengan pesan tunggal ‘shine’ dikonsep bersama oleh tim PR dan Marketing sebagai strategic program yang terintegrasi dalam periode tahunan. PR Commercialization ditujukan agar PR bisa berefek langsung terhadap sales dan consumer. Media maximization diwujudkan dalam bentuk aktivitas merek non iklan yang kemudian dimasukkan dalam program televisi. Di luar itu, tim Pantene juga aktif melakukan kegiatan-kegiatan below the line (BTL) di toko-toko pengecer. 
Fenomena ini makin mengukuhkan pentingnya keseimbangan antara strategi push dan pull marketing, selain pemanfaatkan media sosial. Dalam marketing, dikenal adanya teori mengenai push marketing yang pada intinya ialah menggunakan jalur distribusi untuk melakukan push produk ke outlet-outlet dimana konsumen bisa membelinya. Kemudian ada pull strategy yang pada intinya ialah membangun daya tarik terhadap produk dan jasa melalui berbagai media sehingga konsumen atau customer datang sendiri ke tempat kita atau datang ke toko untuk membeli barang kita. Dengan kata lain agar bisa menjadi merek hebat, komunikasi melalui media -- termasuk media sosial – mesti dibarengi dengan distribusi yang mumpuni untuk menjamin visibilitas produk.

Bedanya Marketing Strategy VS Marketing Plan ( by : Fortune Indonesia )

Tidak jarang, banyak orang merasa kebingungan membedakan antara marketing strategy dan marketing plan. Kami telah menemukan cara termudah untuk menjelaskan perbedaan diantara keduanya, seperti ini:
Marketing strategy – marketing strategy atau strategi pemasaran merupakan penjelasan dari sasaran yang dibutuhkan untuk mencapai segala upaya pemasaran Anda. Ini adalah soal “apa” yang ingin Anda capai. Strategi pemasaran Anda terbentuk oleh sasaran bisnis Anda. Tujuan bisnis dan strategi pemasaran anda harus berjalan beriringan.
Marketing Plan – marketing plan atau rencana pemasaran merupakan cara bagaimana Anda mencapai sasaran pemasaran. Hal tersebut adalah penerapan strategi Anda sekaligus roadmap yang yang akan memandu Anda dari satu titik ke titik lainnya. Berbeda dari strategi, rencana pemasaran adalah soal “bagaimana” Anda mencapai tujuan pemasaran.
Persoalannya, kebanyakan orang berusaha untuk mencapai “bagaimana” tanpa terlebih dahulu mengetahui “apa.” Hal ini bisa berakhir dengan membuang-buang sumber daya bagi perusahaan, baik waktu maupun uang.
Ketika bicara tentang pemasaran, kita harus senantiasa mengenali apa dan kemudian menggalibagaimana. Strategi adalah pemikiran, sementara perencanaan adalah tindakan. Berikut adalah contoh bagaimana keduanya bekerja:
  • Tujuan: Untuk mendapatkan adopsi pasar yang lebih luas.
  • Strategi Pemasaran: Mengenalkan ke segmen pasar baru.
  • Marketing plan: mengembangkan kampanye pemasaran, mengidentifikasi, dan memfokuskan pada segmen tertentu.
Sebuah formula sukses yang dapat digunakan untuk lebih menjelaskan betapa pentingnya marketing strategy dan marketing plan terlihat seperti ini:
Marketing strategy —> marketing plan —> Pelaksanaan = Sukses
strategi pemasaran Anda terdiri dari:
  • “Apa” yang harus dilakukan.
  • Menginformasikan kepada konsumen mengenai produk atau jasa yang ditawarkan.
  • Menginformasikan kepada konsumen faktor perbedaan.
Rencana pemasaran Anda terdiri dari:
  • “Bagaimana” untuk melakukannya. Buatlah kampanye marketing dan promosi yang akan mencapai “apa” di dalam strategi Anda.
Jika Anda sedang mempersiapkan strategi pemasaran dan rencana pemasaran untuk masuk ke dalam perencanaan bisnis Anda, berikut adalah komponen penting yan harus Anda masukkan ke setiap bagian:
  1. Komponen dari Strategi Pemasaran Anda:
  • Eksternal Pemasaran Pesan
  • Dalam Penentuan posisi Sasaran
  • Jangka Pendek Tujuan dan Sasaran
  • Jangka Panjang Tujuan dan Sasaran
Tantangan anda
Uraian singkat produk atau jasa yang akan dipasarkan dan rekapan tujuan yang diidentifikasi dalam strategi pemasaran Anda.
Analisis Situasi
Bagian ini harus mengidentifikasi hal berikut:
  • Sasaran
  • Fokus
  • Kultur
  • Kekuatan
  • Kelemahan
  • Pangsa pasar
Analisis Pesaing Anda
Apa posisi pemasaran Anda? Apa posisi pasar mereka? Apa saja nilai-nilai yang menggerakkan mereka? Apa kelemahan Anda? Apa pangsa pasar yang Anda mengejar? Apa yang memiliki pangsa pasar pesaing Anda sudah disadap?
Identifikasi 4 P Anda (Produk / Price / Place/ Promotion)
Bagaimana Anda akan menggunakan informasi ini untuk mencapai tujuan yang telah diidentifikasi dalam strategi pemasaran Anda.
Seperti yang Anda lihat, strategi pemasaran Anda berjalan beriringan dengan rencana pemasaran Anda. Tanpa keduanya, Anda tidak saja membuang-buang sumber daya, tetapi Anda juga bisa terjebak dan berakhir tanpa ide dan kemana Anda harus pergi.
Hal lain yang penting adalah jangan lupa untuk mengukur kampanye pemasaran apapun yang Anda lakukan dalam rangka untuk melihat apa yang berhasil dan apa yang tidak. Anda dapat menggunakan informasi ini untuk memandu Anda di masa depan. ( copy from : Fortune Indonesia )

Senin, 14 November 2016

Tiga tanda kita harus resign dari pekerjaan kita yang sekarang

Bulan ini, dua rekan kerja saya resign. Mereka bukan sekedar konco gawe biasa, tapi juga partner in crime dalam bermain, belajar, ngegosip, ngebully, dan teman tidur yang menyenangkan (kata Umar, kita bisa tahu karakter seseorang setelah bepergian dengannnya, berbisnis dengannya, dan tidur di rumahnya).
Dua-duanya pindah ke perusahaan start up. Kawan pertama pindah ke online travel agent yang katanya berpotensi menjadi the first start up unicorn di Indonesia (perusahaan dengan valuasi 1 milyar USD). Kawan kedua pindah ke perusahaan FMCG dairy product dari Thailand yang produknya akan masuk ke pasar Indonesia.
Tentu saya merasa kehilangan, sambil ngelus perut dan bertanya: “situ kapan bro?”. Bagi generasi Millenials seperti kami, berganti pekerjaan bukanlah sesuatu yang tabu. Menurut statistik, 80% beranggapan bahwa waktu ideal bekerja di satu perusahaan adalah maksimal 3 tahun. Dan itu berarti kami bisa berganti pekerjaan hingga 15-17 kali dengan 5 bidang karier yang berbeda. Bahkan 55% generasi ini ingin membuka perusahaannya sendiri.
Sejak lulus kuliah dan mencoba belajar di dunia korporasi pada 2012, saya sudah pindah 4 perusahaan. Mengajukan surat pengunduran diri bukanlah sesuatu yang asing. Tapi berdasarkan pengalaman pribadi, ada tiga syarat dimana kita wajib mengajukan surat cinta ini:
  1. Mengalami stagnansi
Masih melakukan pekerjaan yang persis sama seperti 2 tahun lalu? Maka ada dua kemungkinan. Pertama, Anda semakin ahli (specialist expert) atau kemungkinan kedua: Anda ga kemana-mana lagi (stagnant). Bagaimana membedakannya? Sederhana.
Cukup ajukan pertanyaan kepada diri sendiri: “Apakah saya belajar hal baru? Apakah saya bertemu orang baru? Apakah saya memberikan kontribusi baru?”. Jika jawabannya tidak, maka selamat bertemu dengan makhluk setengah dementor bernama stagnansi. Ia akan menyeret korbannya ke zona nyaman dan perlahan-lahan menyedot perkembangan hidup si korban.
  1. Tidak ada inspirasi
Ketika Anda bangun pagi dan berdoa ada badai salju agar tidak perlu ke kantor hari ini, maka itu adalah tanda tiadanya inspirasi. Saat Anda merasa bosan dan berharap segera pulang, maka itu adalah pertanda gairah yang hilang. Saat pekerjaan menjadi tuntutan kewajiban, maka setiap tanggung jawab terasa seperti beban.
Pekerjaan yang baik harus membuat Anda bersemangat bangun pagi, tertawa saat sibuk di siang hari, dan tersenyum ketika pulang di malam hari. Jika Anda tidak bahagia, berarti ada yang salah dengan pekerjaan Anda, atau cara Anda memaknai pekerjaan itu.
  1. Mengejar mimpi
Mark Zuckerberg mengembangkan Fecebook saat belum genap 20 tahun, Henry Ford memulai Ford Motor di usia 39, Colonel Sanders membuka gerai KFC pertama di umur 65. Intinya: orang akan mengingat karya Anda, bukan usia Anda. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan yang membawa kebaikan.
Ketika Anda sadar jika Tuhan menciptakan Anda bukan untuk melakukan pekerjaan ini dan memiliki “panggilan” untuk melakukan sesuatu yang lain, maka waktunya mengikuti panggilan itu. Jangan membunuh suara hati kecil Anda.
Posisi versus Kontribusi
Bagaimana jika tujuan pindah kerja untuk mencari penghidupan (gaji) yang lebih baik? Tentu itu wajar dan manusiawi. Tapi anehnya, hampir semua orang hebat (entrepreneur, direktur, pejabat publik) yang saya temui dan baca biografinya tidak meletakkan bayaran sebagai motivasi utama. Mengutip Kiyosaki:
“Hanya kelas menengah yang bekerja demi gaji”.
Oleh karena itulah, juga demi menghindari pajak, CEO perusahaan besar seperti Steve Jobs (Apple), Sergey Brin (Google), atau Lee Iacocca (Chrysler) hanya ‘digaji’ 1 dollar USD. (Tentu mereka mendapat benefit package lain senilai jutaan dollar yang dikenai pajak lebih kecil).
Bagi orang-orang keren ini, bayaran tak perlu dipikirkan. Hal itu pasti naik mengikuti pertumbuhan kualitas diri. Mereka tidak berkata : “Apa yang saya dapatkan?”, tapi justru malah bertanya: “Apa yang bisa saya berikan?”.
Mereka tahu perbedaan antara posisi dan kontribusi. Posisi itu alat. Kontribusi itu nilai. Orang kebanyakan lebih mementingkan posisi daripada kontribusi. Sedangkan mereka tahu jika kontribusi lebih penting daripada posisi. Kontribusi memberikan Anda posisi. Posisi mewajibkan Anda untuk berkontribusi. Kita tak perlu menunggu memiliki posisi, untuk menyumbangkan kontribusi.
Direktur itu posisi. Mengusulkan solusi itu kontribusi.
Pejabat itu posisi. Melayani orang lain itu kontribusi.
Guru itu posisi. Membagi ilmu itu kontribusi.
Dokter itu posisi. Membantu sesama itu kontribusi.
Polisi itu posisi. Melindungi yang lemah itu kontribusi.
Menjadi manusia itu posisi.
Menjadi makhluk ciptaan Tuhan dan berbuat kebaikan, Itu kewajiban.

Source : Yoga samsugiharja linkedin

Senin, 03 Oktober 2016

Believe in yourself by Steny Agustaf

Many times people will try to tear down what you’re trying to build
 There are times when they question on what you’ve passionately been doing
It’s simply because
They don’t see what you value
They don’t understand what importance of what you think is important
They don’t feel as much burden as you carry up in your shoulder
They’re too reluctant to take the risks as you do
They don’t know how it feels to be you
They’re just not you
Not only will these things frustrate but they will also discourage you.
All you have to do is convince yourself that when no one listens to you, listen to yourself.
That when no one stands beside you, stand up for what you think is worth fighting for
Because you’re like a bird who’s standing on a branch
A bird standing on a branch should never be afraid that the branch would be breaking
Because its trust is not in the branch
But in its own wings.
Believe in yourself !

Source : Steny Agustaf

Prinsip dasar mengantarkan presentasi yang efektif by Steny Agustaf

Presentasi adalah keseharian, tapi presentasi yang menawan adalah suatu pengalaman yang diinginkan kita semua. Tapi presentasi seperti apa sih yang bisa kita handalkan?
Bagaimana 20 menit bisa membawa da mengantarkan orang-orang yang menyaksikan presentasi kita ke dalam sebuah pengalaman knowledge yang berbeda. Every second counts, mari kita pelan-pelan merapihkan dan membuat perubahan positif dalam melakukan presentasi, semoga apa yang kita share bisa bermanfaat untuk orang lain. Berikut adalah 11 tips singkat dari saya:
1. Riset topik. Setiap pembicara akan share pesan yang mereka ketahui, pembicara yang hebat meriset bukti dari pesan-nya.
2. Antusias dengan pesan yang mau disampaikan. Tidak ada modal terhebat selain antusiasme dan passion. Keduanya adalah bahan bakar.
3. Bikin simpel. Semua materi yang rumit dibikin simpel dan jelas. Rangkum jadi 3-5 bagian besar, jelaskan satu persatu dan diulang.
4. Fokus ke audiens. Presentasi yang baik fokus ke menambah pengetahuan buat audiens, bukan canggih-canggihan materi.
5. Think, Feel, Do. Pikir apa yang audiens akan pikirkan, rasakan dan lakukan setelah dengar presentasi kita. Jangan buat rumit.
6. Gunakan gambar, jangan banyak kata di slide. Otak manusia lebih menyimpan gambar daripada kata-kata. Gambar jadi pointer pengingat.
7. Kuasai materi presentasi. Pastikan tau betul apa yang mau disampaikan. Jangan asal baca, pelajari mendalam dan riset lagi.
8. Riset audiens. L/P. Usia, SES, Latar belakang pendidikan dan interest. Jadi tau bagaimana mendekatkan diri dan membahasakan.
9. Estimasi waktu. Gak perlu bicara panjang dan lama. Lebih baik efisien, efektif, tujuan tercapai. Manusia cepat bosan.
10. Be a story teller NOT a lecturer. Lebih baik bercerita dengan pengalaman pribadi. Audiens suka dengan cerita, sains sih ada di buku
11. Impact. Presentasi yang efektif itu penyampaian pesan ke audiens sehingga bisa merubah pola pikir dan fokus pada impact-nya.
https://youtu.be/t4ZcAzbw0bs
Semoga tips ini bermanfaat, never stop learning!

Source : Steny Agustaf

Steny Agustaf Knowledge Management (SA-KM)